Oleh A. Hamid Husain (Alumni Pondok Modern Gontor, King Abdul Aziz University, dan Ummul Qura University) Salah satu perbuatan yang dimurkai Allah SWT, adalah seenaknya menyisahkan dan membuang buang makanan dan minuman. Kebiasan menyisahkan air minum di gelas dan botol, atau makanan tersisa di piring, segera hentikan, karena bisa jadi penyebab seretnya rezeki dan terbuangnya Bilaselesai dari makan lalu masih tersisa di pinggir piring sisa-sisanya mereka tidak menghabiskannya. Perbuatan seperti ini menyelisihi perintah Nabi Muhammad ﷺ!" (Syarah Riyadhus Shalihin, III/532) Semoga kita tergolongkan dalam pihak yang menerapkan semua sunnah Nabi Muhammad ﷺ lalu mengajak serta orang lain padanya. Wallahu A'lam Bishawab. Pasalnya masrakat Indonesia masih sering menyisakan makanan bekasnya di piring. Entah itu karena kekenyangan atau tidak berminat lagi memakannya. Namun alhasil makanan itu terbuang sia-sia. Tetapibukan berarti Anda bebas melakukannya tanpa mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan oleh ulah Anda itu. Jangan sampai Anda lega bisa membuang kotoran Anda namun meninggalkan "sisa" bagi orang sesudah Anda. Hal lain yang juga menyesakan dada saya adalah apabila melihat sisa makanan di piring, baik itu di restoran, hotel atau tempat Berikutadalah 5 hal yang dilarang dilakukan saat menyantap makanan menurut Islam. Tidak mencela makanan Sering kita mengomentari makanan yang akan kita santap. Entah dari rasanya yang terlalu asin atau dari tampilannya yang tidak sedap dipandang. Perkataan semacam ini perlu diwaspadai karena bisa jadi termasuk ke dalam perbuatan mencela makanan. YH7e22. Sebelum virus Covid-19 menyerang, saya dan teman-teman kerap mengadakan kegiatan kumpul bersama. Entah itu main ke kafe, camping, atau sekadar ngumpul di kos salah satu teman. Kegiatan ngumpul ini tentu tidak dapat dipisahkan dari aktivitas olah mulut alias mbadog. Seperti ada yang kurang rasanya jika kumpul dan bergosip ria dengan teman, tapi tidak ada sedang ngumpul, saya dan teman-teman cenderung mengutamakan kegiatan mbadog ini. Makanan yang dibadog pun menyesuaikan dengan lokasi dan kondisi keuangan kami. Contohnya, ketika saya dan teman-teman sedang berkumpul di kos daerah Sapen, Yogyakarta. Makanan yang kemungkinan kami pesan adalah camilan legend di daerah itu, apalagi kalau bukan Tahu Walik lagi kalau sedang ngumpul di daerah Krapyak, Yogyakarta. Tempat di mana saya dipesantrenkan sejak MTs hingga kuliah. Di sini saya malah bingung memilih makanan saking banyaknya jajanan yang tersebar di Krapyak. Apa saja ada pokoknya. Tinggal dananya saja yang ada atau tidak~Nah, di antara momen-momen tersebut, sering kali saya dan teman-teman ini hanya lapar mata. Beli makanan kadung banyak, tapi ujung-ujungnya diakhiri dengan kekenyangan. Namun, ada satu peristiwa yang unik di sini. Apabila kami semua sudah kenyang, kok ya ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal sebiji. Mbuh gimana asal-usul dan kronologinya. Akhirnya kami saling menyalahkan dan tunjuk-tunjukkan tentang siapa yang harus menghabiskan makanan makanan yang hanya tersisa satu itu tidak hanya muncul sekali dua kali dalam hidup saya. Sudah berkali-kali saya dan teman-teman mengalami kejadian serupa. Hingga ketika ada makanan tersisa di piring, pasti ada saja yang nyeletuk, “To, lak mesthi tho.”Oleh karena itu, saya ingin menerka-nerka apa alasan sebenarnya di balik kejadian yang unik itu. Apakah ada unsur mistis di dalamnya? Mari kita usut hal-hal yang kemungkinan menjadi alasan menyisakan makanan yang tinggal satu di piring.1 MaluIni adalah salah satu alasan paling klasik yang sering diungkapkan oleh orang. Menjadi orang yang terakhir mengambil makanan akan menyisakan beban tersendiri bagi orang tersebut. Saya sendiri pernah mengalaminya. Saat itu saya sudah kenyang dan terpaksa menghabiskan makanan yang tersisa karena sayang. Salah satu dari teman saya ada yang nyeletuk, “Iseh ngelih yo we?” Yang begini sungguh demi menghindari celetukan yang nyebelin itu, lebih baik saya diam dan membiarkan oknum lain memakan makanan yang tinggal satu tersebut. Bukannya gimana, tapi saya tidak mau dikira masih lapar dan terlihat memelas~2 Mendadak kenyangSaya tidak tahu apakah ada kajian ilmiah di balik fenomena ini, tapi yang jelas saya betul-betul merasakannya. Saya tidak berbohong ketika bilang perut saya sudah kenyang dan ndilalah ngepasi makanan yang tersisa di piring tinggal satu. Kalau dibilang malu sepertinya juga tidak, lantaran saya sering berkumpul dengan orang-orang yang sama pekoknya dengan ada konspirasi tertentu dari elit-elit global yang menyamar jadi cacing-cacing di perut? Saya tidak tahu. Kebetulan juga tidak mau tahu. Entah gimana, yang jelas saya berharap ada kajian mendalam di balik alasan ini.3 Jaga imageJaim atau jaga image mungkin alasan yang dimiliki oleh kaum-kaum introvert. Meski begitu, jika alasan ini terbukti benar, pastinya akan menyiksa cacing-cacing yang kelaparan. Lha gimana? Ngapain juga kalau aslinya lapar, tapi pura-pura tidak lapar. Berjuang tidak sebercanda itu, Sayang~4 Nggak mau ngasahiIni sepertinya alasan yang paling masuk akal dari alasan-alasan yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Menjadi orang terakhir yang mengambil sisa makanan penghabisan selalu diiringi tanggung jawab untuk membersihkan piring. Meski tidak ada aturan tertulis mengenai hal ini, rasanya pekewuh kalau tidak sekalian membersihkan peralatan makan. Oleh karena itu, orang-orang lebih sering memilih untuk tidak mengambil makanan yang tinggal satu itu karena malas ngasahi. Lha piye? Males je, Brou~BACA JUGA 4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus dan tulisan Yafi’ Alfita Mojok merupakan platform User Generated Content UGC untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di diperbarui pada 23 Desember 2020 oleh Intan Ekapratiwi Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Apakah Indonesia merupakan negara miskin atau dalam istilah halusnya negara berkembang ? Tidak, bukan. Indonesia adalah negara kaya jika hal yang dijadikan parameternya adalah "surplus makanan".Menurut banyak sumber, saat ini Indonesia memang tercatat sebagai negara urutan kedua di dunia yang memiliki "surplus makanan". Tiap tahun Indonesia memiliki "surplus makanan" 300 kg per orang atau total sebanyak 1,3 juta tetapi "surplus makanan" di sini bukan berupa kelebihan atau sisa makanan yang bisa dijaadikan sebagai cadangan, tapi merupakan kelebihan makanan yang terbuang begitu saja menjadi sampah makanan food waste. Sangat ironis memang. Di satu sisi masih banyak orang Indonesia yang kekurangan makanan, tapi di sisi lain banyak orang Indonesia yang suka membuang makanan begitu saja. Padahal jika dikonversi, jumlah sampah sisa makanan Indonesia itu ekuivalen dengan 27 triliun rupiah. Jumlah sampah sisa makanan itu juga cukup untuk konsumsi 28 juta penduduk selama satu tahun. Sementara itu di Indonesia sendiri menurut data BPS Biro Pusat Statistik Juli 2020, pada tahun 2020 ini masih ada 26,42 juta jiwa penduduk dengan perbandingan itu, seandainya sebagian penduduk Indonesia yang memiliki "surplus makanan" tidak suka membuang sisa makanannya itu dan kemudian "disubsidikan" kepada penduduk indonesia lainnya yang ada dalam garis kemisikinan, mungkin jumlah penduduk miskin akan berkurang secara saja bukan berarti sisa makanan itu dikumpulkan lalu diberikan kepada penduduk miskin. Akan tetapi orang-orang yang memiliki "surplus makanan" itu bisa menghemat atau bisa mengendalikan cara makan, gaya hidup, atau hal yang tak perlu lainnya berkenanaan dengan makanan sehingga mereka hanya mengkonsumsi pas sesuai kebutuhan makanan sebagian orang suka menyisakan makanannya ? Padahal hal tersebut merupakan perbuatan buruk, tidak terpuji, dan mubazir ? Banyak faktor mengapa sebagian orang suka menyisakan makanannya. Antara lain ada sebuah "ajaran" yang keliru sebagian orang, sehingga kemudian menjadi "tradisi" mereka ketika makan. Yaitu "jangan menghabiskan semua makanan di atas piring, sebagian harus disisakan".Hal itu mereka lakukan supaya ada kesan bahwa mereka bukan orang yang sedang kelaparan atau orang yang benar-benar sangat membutuhkan makanan. Sebab bagi mereka, hanya orang yang sangat kelaparan atau sangat butuh makanan lah yang suka menghabiskan makanan di atas piring. Dalam masyarakat Sunda ada istilah "kokoro manggih mulud", yang menggambarkan orang yang sangat kelaparan atau sangat butuh "kokoro manggih mulud" berkonotasi negatif sebab mengandung makna sebagai orang yang kemaruk atau aji mumpung makan karena baru menemukan makanan seperti itu. Nah orang yang suka menyisakan makanannya tidak mau dimasukkan kategori orang seperti "kokoro manggih mulud". Oleh karenanya demi menjaga "harga diri", mereka "harus" menyisakan sebagian makanannya di atas piring. 1 2 3 4 Lihat Lyfe Selengkapnya Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Saat membaca tagline lomba yang diprakarsai oleh "Bandung Food Smart City" aku seakan kembali ke masa kanak-kanak, masa dimana keluarga kami belum memiliki televisi. Aku dan saudara-saudaraku harus mengintip dari lubang papan rumah tetangga untuk dapat menonton TV. Siang itu, kisah FTV bercerita tentang seorang anak perempuan yang menghitung sisa butiran nasi dari pembeli yang makan di warung ayahnya. Aku ingat sekali Aming menjadi salah satu aktor dalam FTV tersebut, namun sayang sekali aku lupa judul dari FTV tersebut. Kadang kala aku sangat rindu untuk menonton FTV pada masa kecil ku, tapi hatiku menolak untuk kembali ke masa-masa ceritaku kali ini bukan seputar kisah nostalgia kehidupan masa kecil ku yang menyedihkan ataupun mereview serial lawas televisi yang aku rindukan. Namun, aku ingin mengingatkan kembali bahwa isu tentang "Food Waste" bukanlah hal baru bagi masyarakat Indonesia. Isu ini pernah diangkat menjadi sebuah serial televisi pada sekitar tahun 2005an seperti yang telah aku ceritakan sebelumnya dan hal tersebut masih sangat membekas di dalam ingatanku yang saat ini sudah berusia 26 makan dalam sebagian suku di Indonesia merupakan sebuah budaya yang sangat sakral. Kita diajak untuk menghormati makanan dengan cara memakan dengan hikmat. Hal itu dilakukan untuk menghargai setiap butiran keringat yang telah dikucurkan oleh orang-orang yang memberikan kontribusi sehingga makanan tersebut bisa dihidangkan diatas meja makan dan untuk mensyukuri karena kita masih dapat diizinkan makan disaat banyak orang kesulitan untuk memperoleh makanan. Menurut data FAO Food and Agriculture Organization terdapat 800 juta penduduk dunia yang menderita kekurangan pangan secara kronis dan tidak mampu mendapatkan pangan untuk memenuhi kebutuhan energi minimum mereka. Data FAO tahun 2019Menyisahkan nasi di dalam piring ketika makan juga menjadi pantangan oleh beberapa suku di Indonesia. Budaya ini masih dipegang teguh oleh beberapa orangtua, dimana mereka akan memberikan hukuman atau menegur anaknya yang tidak menghabiskan makanan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, tradisi itu perlahan mulai hilang, tidak tahu sejak kapan pastinya. Hal ini mulai aku sadari saat duduk di bangku kuliah dan mulai sering makan di warung. Aku sering kali dikejutkan oleh beberapa pelanggan atau pembeli yang menyisakan makanannya diatas piring, bahkan seringkali mereka hanya memakan setengah dari makanan yang mereka pesan. Awalnya, aku bingung dengan hal tersebut, tidak jarang aku jadi merasa malu karena seakan menjadi wanita yang rakus karena tidak pernah sekalipun makanan tersisa diatas aku berpikir apakah zaman sudah berubah? Apakah ada alasan lain mengapa setiap orang mulai menyisakan makanan? Apakah ini pertanda zaman modernisasi? Atau ini hanya kebiasaan hedon anak muda yang ingin tampil keren, namun membuat hati manusia sepertiku menjadi memang kebiasaan menyisahkan makan merupakan sebuah gaya hidup baru untuk memperoleh kepuasan diri agar dianggap keren dan mengikuti zaman, maka akan lebih keren lagi bila kita mau mengambil atau meminta makanan sesuai dengan kebutuhan kita, sehingga tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Sampah makanan di Indonesia setiap tahunnya mencapai 13 juta ton, hal ini diungkapkan oleh Kepala Perwakilan Pangan PBB FAO. Sampah makanan tersebut paling banyak berasal dari catering, retail dan restoran. Padahal jika dikekola dengan baik 13 juta ton makanan sisa dapat dinikmari oleh lebih dari 28 juta orang. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik BPS, jumlah ini hampir sama dengan populasi penduduk miskin di setiap kerisauan hati, aku mulai berpikir setidaknya ada kampanye di setiap warung makan berupa pengumuman Harus menghabiskan makanan yang telah dipesan atau memberikan denda kepada pelanggan yang tidak menghabiskan makanan mereka. Pemberian denda kepada pelanggan yang tidak menghabiskan makanan telah diterapkan oleh beberapa restoran Jepang, seperti restoran seafood bernama Hackikyo di Sapporo Jepang yang memberlakukan denda jika pelanggan tidak menghabiskan makanan di mangkok mereka. Kebijakan ini dibuat untuk menghargai orang-orang yang telah berjasa mempertaruhan nyawa untuk dapat membuat hidangan sampai di meja makan. Restoran Hackikyo berhasil mengedukasi pelanggannya karena hampir tidak ada pelanggan yang menyisahkan makanan di mangkok disetiap warung di Indonesia diberi tanda peringatan Di warung ini dilarang menyisakan makanan atau memberikan denda kepada pelanggan yang tidak menghabiskan makanan yang telah dipesan, maka kemungkinan besar akan semakin banyak orang yang tidak menyisakan makanannya diatas piring mereka. Hal itu juga membawa keberuntungan buat tipe manusia seperti aku yang tidak biasa menyisakan makanan dan dapat menghentikan budaya menyisakan makanan diatas piring. Karena tidak ada lagi alasan buat pembeli untuk menyisakan makanan mereka, bahkan tidak akan adalagi pertambahan jumlah populasi manusia yang menyisakan makanan diatas piring mereka hanya karena takut diberi label "rakus".Peringatan yang diberikan oleh warung makan kemungkinan akan menjadi sebuah langkah awal untuk mengurangi pemborosan makanan, karena warung makan merupakan tempat bertemunya beberapa orang yang memiliki karakter yang berbeda dan kadangkala hanya untuk menyeragamkan standar gaya hidup, tanpa disadari setiap orang mulai saling mempengaruhi satu sama lain. Seperti pengalaman yang aku alami, dari warung makanlah muncul rasa risih ketika aku tidak menyisakan makanan diatas setiap orang memakan makanan sesuai porsi yang dibutuhkan oleh tubuh, mari berhenti melakukan gaya hidup yang salah dan mulai melakukan perubahan dari dalam diri kita pribadi. Ketika kita menghargai makanan, maka kita juga ikut menghargai setiap jasa orang-orang yang bekerja untuk menyediakan makanan tersebut sehingga dapat kita nikmati. Semangat berbenah dengan revolusi mental yang baru. Hidup memang bukan hanya untuk makan, namun makan dapat membuat hidup dan menghargai makanan akan membuat hati mu benar-benar tampak hidup. Lihat Humaniora Selengkapnya JAKARTA, - Aktivitas yang padat, terkadang membuat sebagian orang menyepelekan kegiatan membersihkan rumah yang paling kecil, yakni mencuci piring. Padahal, dengan segera mencuci piring, akan menjadikan dapur lebih rapi dan teratur. Sebaliknya, cucian piring yang menumpuk akan menjadikan dapur sebagai sarang serangga serta hama yang tidak diinginkan dari Taste of Home, Rabu 26/5/2021, kegiatan yang sangat banyak, membuat sebagian orang mencuci piring tidak maksimal dan meninggalkan masih meninggalkan noda di dalam piring dan peralatan makan lainnya. Baca juga Cara Cerdas untuk Menghilangkan Goresan dari Piring Porselen Putih Oleh karena itu, ada beberapa kesalahan dalam mencuci piring yang tidak boleh dilakukan, antara lain sebagai berikut. 1. Membiarkan piring menumpuk Meninggalkan piring di wastafel dapur untuk dicuci nanti bukan hanya kebiasaan bermalas-malasan, tapi juga bisa berbahaya. Bakteri dapat tetap hidup hingga empat hari di piring bekas Anda dan menyebar ke seluruh lagi kerak saus atau sisa makanan membuat mencuci piring semakin sulit. Jika Anda benar-benar tidak ingin membersihkan saat Anda pergi, setidaknya bilas piring dari sisa bahan makanan yang menempel. 2. Menggunakan terlalu banyak sabun Pernahkah Anda mengeluarkan gelas dari lemari dan terlihat keruh dan sedikit kotor? Jika keadaannya seperti itu, mungkin Anda menggunakan terlalu banyak sabun cuci piring saat mencucinya. Baca juga Cara Mudah Membersihkan Mesin Pencuci Piring Busa yang dihasilkan sabun cuci piring secara berlebihan dapat meninggalkan residu lengket di piring Anda jadi gunakan satu atau dua sendok makan sabun saat mencucinya. 3. Mengeringkan dengan lap kotor Kain lap yang digantung di wastafel yang "hanya untuk piring dan tangan" mungkin telah menjadi penampung semua tumpahan. Artinya mengandung kotoran, kotoran dan bahkan E. coli dan kuman lainnya. Sebagai solusinya, pastikan piring Anda mengering tanpa dilap atau sering mengganti handuk piring. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pernahkah Anda menyadari bahwa menyisakan makanan yang disantap lalu membuangnya adalah tindakan kurang etis? Tentu banyak sekali kita melihat pada suatu pesta atau pada beberapa rumah makan, orang yang merasa memiliki uang dengan pongahnya memesan banyak mskanan, tetapi hanya disantap atau dihabiskan setengahnya saja, sisanya boro-boro diminta di bungkus, tetapi dibisrkan ditinggalkan di meja dan lalu dibuang ke tempat sampah oleh pramusaji rumah makan. Memang bisnis antara pemesan makanan dan pemilik rumah makan hanya sebatas pembayaran, begitu pembayaran diselesaikan semuanya beres. Sadarkah sisa makanan itu menjadi limbah? Sadarkah bahwa banyak manusia dimuka bumi ini masih banyak yang kelaparan? Berbeda dengan kondisi di sebuah negara di Eropa, orang memesan makanan sewajarnya saja, maka tidak heran bila kita melihat anak muda berdua yang hanya menghadapi dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka. Demikian pula pada meja lain sebuah keluarga memesan makanan secukupnya, lalu membagi diantara mereka zehingga habis tak bersisa. Apakah mereka tergolong pelit? Tidak, justru mereka perlu nendapat apresiasi karena telah menyelamatkan lingkungan. Karena di negara Eropa ini sudah diberlakukan peraturan, suatu denda bagi mereka yang menyia-nyiakan sumber daya alam. Karena sumber daya alam itu milik bersama. Jadi mereka yang menyisakan makanan di mejanya dapat dikenakan jadi teringat adanya peraturan pada rumah makan dengan konsep AYCE All You Can Eat yang sudah mulai menjamur di Indonesia. Kita boleh mengambil makanan apa saja, namun bila kita menyisakan makanan, maka rumah makan akan mengenakan denda. Konsep ini bagus, karena akan membiasakan pengunjung mengambil makanan sesuai kapasitas yang mampu bila kita menghadiri pesta dengan konsep prasmansn sekalipun, ambillah makanan secukupnya, jangan lapar mata, lalu hampir semua jenis makanan ditumpuk pada piring, sehingga tumpukannya sangat tinggi. Pertama akan membuat malu diri kita karena akan jadi bahan gunjingan. Kedua, kita pasti akan menyisakan makanan, yang identik dengan menyia-nyiakan sumber daya serupa juga berlaku bila kita menjamu tamu, bukannya kita pelit, tetapi pesanlah makanan secukupnya yang mampu kita habiskan. Bagaimana cara merubah kebiasaan buruk untuk selalu menyisakan makanan? Didiklah sejak ansk-anak kita masih kecil untuk menghargai setiap butir nasi. Saat saya masih kanak-kanak, ada peribshasa yang sering disebutkan oleh orang tua 'jangan menyisakan nasi di piring, karena nasi akan menangis'. Melalui peribahasa ini kita dibiasakan untuk mengambil makanan secukupnya, sehingga tidak perlu menyisakan sebutir nasipun di atas semua orangtua mau mendidik cara makan anak-anaknya, hampir dapat dipastikan generasi berikutnya akan menghapus kebiasaan buruk menyisakan makanan sama halnya dengan denda yang alan dikenakan pada mereka yang menyisakan makanan pada rumah makan dengan konsep AYCE. Sekaligus kita akan menyelamatkan sumber daya alam ysng akan terbuang percuma. Lihat Nature Selengkapnya

jangan menyisakan makanan dalam piring karena itu perbuatan